MENGENAL KELURAHAN SUKABUMI YANG DULUNYA BERNAMA BAREMI DAN PEKALONGAN
- Jul 11, 2025
- Edi Martono
Sebagaimana tertulis di Kakawin Negarakertagama Pupuh 34 bait ke 4 bahwasanya pada tahun 1281 Saka atau 1359 Masehi, Prabu Hayam Wuruk sempat berkunjung disebuah wilayah yang bernama Baremi, dimana pada saat itu Baremi kemungkinan merupakan sebuah desa yang sudah memiliki pemerintahan walau sebatas di pimpin oleh seorang Tokoh Masyarakat atau Tokoh Agama mengingat adanya beberapa makam yang disebut Makam Buyut atau Makam Punden (Memori kolektif masyarakat).
NAMA DESA / KELURAHAN
Bahwa Sukabumi dahulunya bernama Baremi tertulis pada kitab Negarakertagama kemungkinan karena masyarakat kita terbiasa mencari kemudahan dalam pelafalannya akhirnya kalimat Baremi kemudian menjadi Bremi.

Walaupun sebagian masyarakat ada yang menyebut Bermi karena meyakini tentang asal usul wilayah mereka dari kata Sumber ing Bumi sesuai cerita rakyat yang ada.
Selanjutnya menjadi Bremi dan Pekalongan seperti tercantum pada Peta th 1881–1885. Pada Peta tahun 1916 pun masih bernama Bremi dan Pekalongan.

Baru pada Peta tahun 1946 muncul nama Soekoboemi (https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/)

Tentang sejarah perubahan nama Kelurahan ini penulis kesulitan mencari urutanya karena minimnya data referensi dan narasumber yang bisa diwawancarai.

Foto Kelurahan sukabumi tahun 1985
MODEL PEMERINTAHAN
Pada tahun 1918 Dewan Kota Probolinggo atau dalam bahasa Belanda di sebut dengan Gemeente Raad dibentuk untuk pertama kalinya berdasar pada staatsblad nomor 322 tahun 1918 yang ditanda tangani pada tanggal 20 Juni 1918 Di Batavia dan berlaku secara efektif pada 1 Juli 1918 (www.delper.nl ).
Dengan adanya Staatsblad ini Kota Probolinggo, yang awalnya adalah salah satu wilayah dari karesidenan Pasuruan, kemudian disebut sebegai “Gemeente Probolinggo”, berhak mengelola daerah dan anggarannya sendiri, yang sebelumnya dikelola oleh Dewan Daerah Pasuruan.
Maka setelah sekian lama dipimpin oleh Tokoh Masyarakat / Tokoh Agama dan ikut dalam sistim pemerintahan Kolonial yang ada maupun Pemerintahan Bupati Probolinggo, dibentuklah Pemerintahan Desa Sukabumi.
Desa pun berjalan sesuai dengan Staatsblad 1906 No. 83 diubah dengan staatsblad 1910 No. 591, staatsblad 1913 No. 235 dan staatsblad 1919 No. 2117 yang dikenal dengan nama Inlandsche Gemeente Ordonnantie atau undang undang tentang desa (Prof. Dr. H.M. Aries Djaenuri, M.A. Pemerintahan desa pada masa penjajahan Belanda)
Pada awal berdirinya Kelurahan Sukabumi berbentuk Pemerintahan Desa dengan dipimpin seorang Petinggi atau biasa dipanggil Pak Tinggi yang dipilh langsung oleh masyarakat melalui Pemilihan Petinggi, dan Desanya bernama Desa Pekalongan (Memori kolektif masyarakat). Sedangkan nama Pekalongan menurut penuturan sebagian masyarakat diambil dari banyaknya warga pendatang yang dari Pekalongan kemudian bermukim di wilayah yang sebelumnya bernama Bermi (Achmad Budiman Suharjono 24 Oktober 2022)
Adapun nama nama Kepala Desa yang pernah menjabat di periode awal terbentuknya:
- Tirtosari menjabat dari tahun 1924 sampai dengan tahun 1927
- Djojokerto menjabat dari tahun 1927 sampai dengan tahun 1930
- Kertosari menjabat dari tahun 1930 sampai dengan tahun 1953
- Abdul Madjid menjabat dari tahun 1953 sampai tahun 1971
- Soeharto menjabat dari tahun 1971 sampai tahun 1986
(Sumber : Prasasti Kelurahan Sukabumi)
Prasasti yang ada di Kelurahan Sukabumi
Pada saat Kepala Desa dijabat oleh Kertosari ini nama Pekalongan berubah menjadi Sukabumi (memori kolektif masyarakat). Pemilihan Langsung terakhir kalinya dilaksanakan di belakang Stadion Bayuangan ketika pemilihan yang dimenangkan oleh Petinggi Soeharto karena selanjutnya Lurah Sukabumi ditunjuk atau diangkat oleh Walikota Probolinggo (Agoes Soebekti 14 Nofember 2022)
TEMPAT BERSEJARAH DI KELURAHAN SUKABUMI
1. MASJID AGUNG ROUDLOTUL JANNAH DAN ALUN ALUN

Disisi barat Alun Alun terdapat Masjid Agung Raudlatul Jannah. Dulu dinamakan Masjid Jamik, dan dibangun sekitar tahun 1770 oleh Raden Tumenggung Djojonegoro atau berjuluk Kandjeng Djimat, yakni bupati kedua Probolinggo, setelah wafat beliau dimakamkan di barat Masjid Agung.
2. SEKOLAH PENDIDIKAN GURU (KWEEKSCHOOL)

Kweekschool atau Sekolah Guru di Probolinggo pertama kali diresmikan oleh Residen Probolinggo, J. Kniphorst pada tanggal 2 Januari 1875,yang juga dihadiri oleh Bupati Probolinggo Raden Adipati Soerjadinegoro. Pada saat diresmikan pertama kali jumlah murid 41 orang padahal kapasitas yang ada 50 orang.
Di tahun 1927 pemerintah kolonial membuat kebijaksanaan baru dalam bidang pendidikan yaitu menutup sebagian sekolah guru diberbagai wilayah nusantara, maka setelah 52 tahun menghasilkan guru-guru pribumi untuk wilayah Jawa Timur dan sekitarnya Kweekschool yang ada di Probolinggo inipun ditutup.
Berdasarkan foto lama dan peta kuno tahun 1882. (digitalcollections.universiteitleiden.nl)
Kweeksschol berada di jalan Dr. Moch. Saleh yang dulunya jalan ini bernama Weduwe Straat atau Zee Straat. Dan saat ini telah menjadi gedung serbaguna Graha Sanika Satyawada Polres Probolinggo Kota.
3. GEREJA KRISTEN JAWI WETAN
Guru Injil pertama Gereja Kristen Jawi Wetan yang bernama Mas Wirjodarmo
Gereja Kristen Jawi Wetan didirikan pada tahun 1934 dijalan Ahmad Yani yang dulunya bernama Regentstraats atau dalam bahasa Indonesia Jalan Kabupaten.
Pembangunan Gereja ini berkat campur tangan Bupati Probolinggo ke 18 Raden Adipati Ario Poedjo, yang menjabat periode 1930 - 1943. Beliau adalah putra pak Gadroen, seorang guru di Sekolah Misionaris di Mojowarno, dan satu-satunya bupati kristen di Jawa waktu itu. Diresmikan pada tanggal 18 Desember 1934 dan dipimpin oleh Pdt. Th. B.W.G. Gramberg dan seorang Guru Injil bernama Mas Wirjodarmo (buku Van Zendingsarbeid tot Zelfstandige Kerk in Oost Java 1939.) dimana sebelum gereja ini di bangun, kebaktian tiap Minggu diadakan di rumah Mas Wirjodarmo yang terletak di Maleischestraat atau jalan Kartini sekarang.
4. KANTOR KORPS MILITAIRE POLITIE

Berada di Weduwe Straat atau Zee Straat yang saat ini menjadi jalan Dr. Moch. Saleh. Kantor korps yang berfungsi menjaga kedisiplinan tentara Hindia Belanda dan tawanan perang ini sekarang telah beralih fungsi sebagian sebagai rumah penduduk dan sebagian lagi menjadi kafe (Radar Bromo 25 September 2022)
5. MAKAM MELAYU

Di laman https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/ tercantum sebuah lukisan karya Mas Pirngadie berjudul Koeboeran Malajoe Probolinggo dengan keterangan De 3e Kidjeng Van Voor naar achter is het graft van mijn schoonmoe der yang artinya Kijeng ke 3 dari depan kebelakang adalah makam ibu mertuaku, di publikasikan tahun 1906.(KITLV 36D526) karena penasaran penulis mencoba menelusuri makam tersebut. Tanpa sengaja menemukan sebuah Nisan terbuat dari Kayu Ulin yang berukiran Kuncup Melati. Dari hasil beberapa narasumber diduga nisan tersebut milik orang penting bahkan ada yang mengatakan bahwa kayu Nisan tersebut diduga milik teliksandi Kerajaan Mataram Islam (Radar Bromo 5 Maret 2022)

KESIMPULAN
Kesimpulan : Berdasarkan Pembahasan di atas ternyata Kelurahan Sukabumi memiliki Potensi Kesejarahan yang sangat banyak. Perlu dilakukan kajian kajian yang mendalam terhadap apa yang saat ini belum ada informasi tentang tempat, bangunan serta kejadian yang pernah ada di Kelurahan Sukabumi,
DAFTAR PUSTAKA
Modul I Sejarah Terbentuknya Desa Prof. Dr. H.M. Aries Djaenuri, M.A. Pemerintahan desa pada masa penjajahan Belanda.
http://repository.ut.ac.id/4201/1/IPEM4208-M1.pdf
https://digitalcollections.universiteitleiden.nl
Radar Bromo 5 Maret 2022
Radar Bromo 25 September 2022